Detail

Struktur Pertahanan Perang Dunia II : MENYEBAR DI PESISIR, TERSEMBUNYI DI PEDALAMAN


2009-12-01

Memasuki masa Perang Dunia I dan kemudian ancaman Perang Pasifik atau Perang Dunia II yang telah diperkirakan banyak pengamat, maka Hindia Belanda membangun basis pertahanan pedalaman untuk melindungi Bandung yang direncanakan menjadi ibukota baru. Bersamaan dengan rencana penggalangan milisi pertahanan Hindia, maka pada beberapa posisi strategis di sekitar Bandung telah dibangun benteng-benteng dan gua pertahanan untuk mengantisipasi perang yang akan datang.Ketika Belanda menyatakan takluk tanpa syarat pada Jepang pada tanggal 8 Maret tahun 1942 di Kalijati, berakhirlah kekuasaan Hindia Belanda di bumi Nusantara.

Bungker Ujong Karueng, DI Nanggroe Aceh Darussalam Bungker Ngreco, Bantul, DI Yogyakarta

 

Pendudukan Jepang selama 3 tahun lebih (1942-1945) meninggalkan jejak berupa gua dan benteng pertahanan yang cukup banyak di seluruh Indonesia.  Sistem perang modern tidak memerlukan lagi benteng-benteng sebagaimana digunakan oleh Belanda, Inggris dan Portugal di masa lalu.  Disamping memanfaatkan benteng-benteng lama dari masa kolonial Belanda, Jepang lebih banyak mendirikan pilboks yang disebar di sepanjang pantai sebagai garis pertahanan terluar. Pertahanan di pedalaman lebih mengandalkan gua-gua (alam dan buatan),  sangat ampuh untuk menahan laju armada Sekutu—sekaligus sebagai lubang perlindungan, persembunyian dan gudang senjata. Namun berbeda dengan Indonesia Timur yang menjadi garis depan pertempuran antara Jepang dan Sekutu, maka Jawa dan Sumatra relatif jauh dari hiruk-pikuk Perang Pasifik.

Bungker Ancol, Jakarta

Gua Jepang Juanda, Bandung

Gua Jepang, Blambangan, Jawa Tengah

 

QUICK SEARCH




PUSAT DOKUMENTASI ARSITEKTUR COPYRIGHT 2018