SEJARAH

FORT ORANJE - TERNATE
Sejarah (History)



Pada tahun 1599 dua kapal Belanda di bawah pimpinan Wijbrand van Warwijck tiba di Ternate. Pada tahun 1605 VOC berhasil mengusir bangsa Portugis dari Ternate tetapi setahun kemudian Ternate direbut oleh bangsa Spanyol. Pada tahun 1607 seorang Laksamana VOC bernama Cornelis Matelieff de Jonge membantu Sultan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari Ternate. Atas keberhasilannya tersebut, ia mendapat izin dari Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di tempat bekas benteng Melayu milik Sultan yang sudah rusak. Selain itu, Sultan juga memberi izin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah. Benteng yang awalnya bernama Benteng Melayu ini kemudian pada tahun 1609 namanya diubah menjadi Benteng Oranje oleh Penguasa Belanda pertama di Maluku, Paulus van Carden. Namun demikian, nama Benteng Melayu masih tetap dipakai hingga beberapa tahun kemudian. Pada tanggal 17 Februari 1613, ketika Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, dengan sepucuk Surat Keputusan pada 17 Februari 1613, Dewan Komisaris “Heren Zeventien” di Belanda menetapkan kawasan Maluku sebagai pusat kedudukan resmi VOC dan kota Ternate, serta Kota Ambon (Amboina) menjadi pilihan tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal. Pada saat itu Ternate berperan lebih besar, dan Benteng Oranje menjadi tempat Dewan Hindia Belanda menyelenggarakan rapat-rapat kerja mereka, yang antara lain bertugas membuat peraturan dan keputusan VOC. Pieter Both berunding di Benteng Oranje dengan Sultan Mudaffar dari Ternate dan disepakati sejumlah hal seputar kawula Ternate yang menyeberang ke VOC dan beralih agama, serta para budak yang melarikan diri ke kekuasaan orang Eropa dan penanganan orang Kristen yang ditawan pasukan Ternate.

QUICK SEARCH




Detail Benteng

Images & Map

PUSAT DOKUMENTASI ARSITEKTUR COPYRIGHT 2018